Ulangan, ulangan, dan ulangan. Mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah lanjutan pertama, dan sekolah menengah umum, terus sampai universitas, anak-anak sangat terikat oleh system ujian.
Dalam suatu ulangan, orang harus menuliskan jawaban atas sejumlah pertanyaan tertentu dalam waktu tertentu. Ini dianggap hal yang wajar. Namun, tidak ada alasan apa pun mengapa orang harus menjawab sejumlah pertanyaan tertentu, katakan, dalam waktu tak lebih dari satu jam. Apa salahnya kalau anak merenungkan pertanyaan-pertanyaan itu selama dua jam atau bahkan satu hari?
Bagaimanapun juga, ujian sekarang ini merupakan satu-satunya dasar untuk penilaian. Anak yang tidak dapat menjawab pertanyaan dalam waktu tertentu dicap sebagai murid yang bodoh.
Banyak anak membutuhkan waktu lama dalam berpikir. Ini merupakan masalah watak, bukan kemampuan. Sungguh, banyak anak kreatif terdapat di antara anak-anak semacam itu.
Penemu termasyhur Thomas Alfa Edison (1847-1931) saat masih anak-anak, menguji gurunya dengan pertanyaan, “Mengapa 2+2 sama dengan 4?” Namun, ia dianggap salah satu murid bodoh semacam yang disebut di atas itu. Yang menyedihkan ialah bahwa menurut system ujian sekarang ini, yang dinilai cerdas oleh sekolah ialah murid yang berpikr cepat. Maksud semula pendidikan, yaitu untuk menemukan dan menumbuhkan bakat-bakat terpendam, kini terlewatkan. Apa yang hilang dalam pendidikan sekolah zaman sekarang ialah meluangkan waktu untuk menjelaskan pokok-pokok yang penting kepada para murid.
(Disadur dari buku “ Buku Kursus Satu Minggu)Yuk jadi orang tua sholih
Catatan harian seorang guru...
i hear i forget, i see i know, i do i understand
Mengenai Saya
- Dewi Pujining Nugraheni
- saya adalah seorang wanita yang dianugerahi amanah menjadi guru bagi keluarga,siswa dan masyarakat
0
komentar
Langganan:
Postingan (Atom)